Gara-gara liburan 6 hari ga pulang dan ga ngapa-ngapain, akhirnya aku beberapa kali maen ke gramedia Bintaro Plasa. Ngapain hayo??
Beli buku!!!
Lumayan, mumpung ada diskonan grand opening all item 30% jadinya pengen beli buku. Selain buat bacaan di waktu liburan, baca buku kayanya pas banget jadi salah satu resolusi buat tahun 2008. Rencananya sih mau bikin target baca buku sedikitnya 25 buah di tahun 2008 (berarti satu bulan 2 buku, Ha3... cukup Ambisius!!). Jadi pembelian buku kali ini bisa jadi pemanasan sebelum 2008.
Maklum, saat ini aku lagi butuh sarana intellectual exercise, soalnya sekarang udah ga hidup di lingkungan akademis lagi (jadi inget petuahnya Pak Bambang Sudibyo waktu di kampus bahwa sebagai manusia harus senantiasa melakukan olah raga, olah rasa, dan olah pikir secara seimbang).
Secara total, ada 7 buku dan 2 majalah yang dibeli. Rekor tersendiri lho, soalnya aku jarang beli buku. Kalaupun beli paling2 cuma satu. Buku yang dibeli adalah:
The World Is Flat : Sejarah Ringkas Abad Ke-21 (Thomas L. Friedman)
Change! (Rhenald Kasali)
Competency Management (R. Palan)
Applying Sun Tzu’s Art of War (Khoo Kheng Hor)
Buku Pintar Agama Islam (Syamsul Rijal Hamid)
50 Tokoh Politik yang Mengubah Dunia (Achmad Munif)
36 Jam Belajar Komputer : Microsoft Excel 2007 (Budi Permana)
Sayangnya, waktu dicari buku Trust (Francis Fukuyama) ga ketemu. Kalau ada, mungkin dibeli juga.
Mengutip ucapan Bang Poltak, ”Memiliki buku itu gampang, tapi membacanya sampai tuntas itu soal lain”. Perlu aku tambahkan, bahwa ”Membaca sampai tuntas itu masih gampang, tapi memahami dengan baik itu soal lain”. Tapi anyway, paling ngga, memiliki adalah langkah awal untuk bisa memahami dan menanamkan komitmen untuk membaca.
Ringkasan buku-buku tersebut kapan2 akan aku bahas di blog ini. Insya Allah..
Raja Tun meninggal 120 tahun setelah Raja Eros lahir. Jumlah usia keduanya jika dijumlahkan adalah 100. Raja Eros Meninggal tahun 40 B.C. Tahun berapakah Raja Tun Lahir??
Hayoooo....
(dpt dr m.lutfi nih.. hehe)
Put your answer below and write down: how many minutes you need to solve the question above..
halah gaya, pake basa inggris segala!! Salah lagi…hihihi
Tau ga,
Dulu waktu SMP, SMA, yang namanya nasi padang itu sangat asing bagiku.
Pokoknya kalo mau makan keluar, ga pernah terbesit buat makan di rumah makan Padang (ya iya lah, wong makan di kos mulu). Kayanya hanya 1-2 kali aja deh makan masakan Padang. Itupun karena ditraktir dan langsung lupa rasanya.
Eh ternyata,
Waktu kuliah mulai kenal deh yang namanya masakan Padang. Awalnya sekedar nyoba-nyoba aja. Aneh sih. Soalnya ga terbiasa dengan sayur dan sambel ijo-nya. hehehe.. Tapi lama kelamaan kok jadi Doyan juga ya??
Sampe sekarang, kalo cari makan dket kos paling sering ya masakan Padang itu. Soalnya males jauh-jauh, selain karena dket Bintaro juga jarang ada warung makan. Ga seperti di Yogya dulu. Dan penjaga warungnya pun udah hapal bagaimana habit-ku waktu beli nasi.
Sampe kapan ya, aku suka masakan Padang?? Kayanya sih masih lama.
gambar diperoleh dari sini
Semenjak ikut pelatihan, aku diharuskan memakai dasi tiap kali masuk kelas. Ternyata, dasi bisa memperbaiki penampilan meski sedikit. :)
Tetapi muncul sedikit masalah.
Pertama, merawat
dasi tidaklah mudah. Dasi (murah) itu mudah rusak. Mulai dari benang
ketarik, bentuk jadi tidak simetris karena salah melipat, lecek,
hingga berbulu karena sering kecantol. Hehe..
Kedua, dasi perlu koleksi yang cukup banyak. Karena biasanya, bentuk dan corak dasi lebih diperhatikan daripada baju. Selain itu, one tie doesn’t fits to all. Bisa jadi satu dasi hanya cocok untuk satu baju saja. Idealnya, setiap hari perlu berganti dasi biar orang ga bosen. Jadi, kalau koleksi dasi hanya punya tiga seperti saya, mau tidak mau harus nambah lagi. Tapi pinjam-meminjam antar teman bisa jadi solusi juga kok.. hehe..
Trims buat temen2 yang selama ini mau meminjamkan dasi.
Sudah satu minggu ini gw masuk kelas Trainee untuk business banking di salah satu bank terbaik. Diantara 28 orang peserta, hanya gw yang berasal dari Yogya. Uda gitu, ke 27 orang classmates gw ga ada satupun yang kenal gw sebelumnya. It means, ga ada yang tahu benar siapa gw, bagaimana gw di kampus, keburukan gw, latar belakang gw, bahkan nama panggilan gw.
Selama mengikuti kelas training di sini, gw memperkenalkan diri dengan nama panggilan yang menurut gw baru, yaitu “Agung” setelah sekian lama pake nama “Bowie/Bowo”. Penyebabnya ada beberapa:
- Gw pake name-tag Triagung Wibawa, sehingga nama agung lebih gampang diucap
- Nama Bowie ngga tertulis secara eksplisit di nama lengkap gw, sehingga orang suka bingung dan heran. Dan gue selalu malas memberi penjelasan.
- Di kelas, ga ada orang lain yang namanya Agung
Awalnya gw ngerasa aneh-gw sendiri ga familiar dengan nama panggilan gw.. hehehe.. Tapi lama kelamaan, enak juga. Yang jelas, gw berharap panggilan baru ini bisa membawa pembaruan yang baik bagi gw.
Tertarik meniru?? Silakan..
NB : Ada yang aneh dengan posting di atas?? Sepertinya iya. Postingan ini menggunakan sapaan ”gw” bukan ”aku”. Bukan karena sekarang tinggal di Jakarta lantas pake-pake istilah ”gw”, tetapi hanya sekedar mencoba. Dan ternyata tidak cocok (dan aneh).
4 kota..
3 sekolahan
4 kos-kosan
2 perusahaan
1 tujuan.. untuk kehidupan yang lebih baik..
what a life.. ;)
Berikut ada kutipan dari artikel menarik:
(Basri, Faisal. 2007. "Bencana Banjir". Kompas, 12 Februari)
Banjir menegur Jakarta yang masih saja tamak dan pongah, enggan berbagi dengan daerah-daerah lain, bahkan cenderung menyalahkan mereka. Jakarta terus saja mempercantik wajah dengan kosmetik berlebihan sehingga menjelma seperti "topeng monyet" yang semakin beringas.
Itulah sosok Jakarta yang dibangun dengan terlalu eksesif mengedepankan modal fisik. Sementara modal manusia, modal sosial, dan modal spiritualnya terus menerus tergerus.
Jakarta masih berencana membangun enam ruas jalan tol baru. Pembangunan pusat-pusat belanja berskala kecil hingga mega terus marak di seluruh wilayah, termasuk pula yang berlokasi di jantung kota. Demikian pula dengan pembangunan puluhan apartemen pencakar langit yang kian marak. Kesemuanya dibangun dengan tidak lagi mengindahkan kaidah lingkungan dan penyediaan fasos-fasum.
Sebagai Ibu Kota negara yang menyandang predikat kota modern, seharusnya Jakarta telah mengalami transformasi menjadi kota jasa modern yang mampu menciptakan kegiatan produktif yang bernilai tambah tinggi. Pemerintah kota bisa secara aktif menawarkan mekanisme insentif agar pabrik-pabrik yang bernilai tambah rendah bersedia keluar Jakarta secara sukarela.
Hmm...
Rumit (dan Geram) yah, ngeliat Jakarta??
Duh, sial banget...
Account FS-ku ter-hacked...
Sempet berganti nama jadi "Hacked"
Bagi temen2 yang terganggu, mohon maaf..
kalau account saya sempat disalahgunakan,
mohon maaf juga...
Recent Comments